Versi Android


Breaking News

kurikulum

Rabu, 28 Oktober 2015

KONSEP, PERENCANAAN DAN LATIHAN SUPERVISI AKADEMIK


1. Konsep supervisi akademik
Supervisi berasal dari kata ‘super dan vision’. Super berarti tinggi, atas dan vision artinya melihat. Sehingga supervisi adalah melihat dari atas, artinya orang yang melihat itu mempunyai kemampuan yang lebih (tinggi) dari yang dilihat. Supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran (Daresh, 1989, Glickman, et al; 2007).
Pengertian yang hampir sama juga dituliskan oleh Sujana (2008), yang menyatakan bahwa supervisi akademik adalah menilai dan membina guru dalam rangka meningkatkan kualitas proses pembelajaran agar kompetensi peserta didik mencapai optimal. Supervisi akademik yang menggunakan pendekatan ‘klinis’ yang disebut sebagai model supervisi kontemporer sering disebut sebagai supervisi klinis. Supervisi akademik dengan pendekatan klinis, merupakan supervisi akademik yang bersifat kolaboratif. Prosedur supervisi klinis sama dengan supervisi akademik, yaitu: adanya observasi kelas, namun pendekatannya berbeda. Sebagaimana dikatakan Achenson, at.al (1987) bahwa konsep ‘klinis’ berarti menyarankan adanya hubungan tatap muka antara guru dan supervisor yang berfokus pada tingkahlaku aktual guru di dalam kelas. Pada model supervisi klinis ini, guru diharapkan secara sadar menyampaikan masalah pembelajarannya di kelas kepada supervisor. Hal didukung oleh pendapat Sullivan & Glanz ( 2005) dan Sergiovanni (1987) yang menyatakan bahwa supervisi klinis adalah pembinaan performansi guru mengelola proses pembelajaran dengan tujuan untuk pengembangan profesional dan motivasi kerja guru. Sullivan & Glanz (2005). Pada supervisi akademik, dikenal ada empat langkah dalam supervisi klinik, yaitu: perencanaan pertemuan, observasi, pertemuan berikutnya, dan re􀏐leksi kolaborasi.
Supervisi klinis dapat dianalogikan dengan istilah klinis dalam dunia kesehatan yang menunjuk pada suatu tempat untuk berobat. Seorang pasien datang ke klinis bukan karena diundang dokter melainkan karena ia membutuhkan pengobatan agar sembuh dari penyakitnya. Selanjutnya, dokter mengadakan diagnosis dan resep untuk mengobati penyakit pasiennya. Dalam dunia sekolah, guru datang sendiri menemui kepala sekolah untuk meminta bantuan memecahkan permasalahan yang sedang dihadapinya.
Agar lebih memahami langkah-langkah supervisi klinis secara detail dan perbedaan supervisi tradisional lainnya Anda dapat membaca pada modul Supervisi Akademik atau melalui internet. Menurut Acheson et.al (1987:13), supervisi klinis terdiri dari 3 tahap, yaitu perencanaan konferensi, observasi kelas dan umpan balik konferensi. Berdasarkan kedua pendapat ini, pada tataran implementasi di sekolah, kepala sekolah dan pengawas sekolah lebih banyak menggunakan model supervisi dengan tiga tahap seperti dalam pendekatan supervisi klinis, sesuai dengan pendapat Acheson et.al. (1987).
Supervisi akademik merupakan kegiatan terencana, terpola dan terprogram dalam mengubah perilaku guru agar dapat meningkatkan kualitas pembelajaran (Sujana,hal:3). Berdasarkan pengertian di atas, maka seorang kepala sekolah dituntut tidak sekedar melakukan supervisi guru, tetapi dituntut agar rangkaian kegiatan kepala sekolah tersebut, membantu guru dalam mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Untuk itu dibutuhkan suatu perencanaan program supervisi.Dokumen perencanaan program supervisi akan menjadi panduan bagi seluruh warga sekolah. Perencanaan ini dapat berisikan tentang latar belakang, tujuan, raung lingkup supervisi, instrumen , jadwal masing-masing guru, petugas supervsi dan harus disosialisasikan dan dipahami oleh semua warga sekolah. rutin guru.

2. Tujuan supervisi
Supervisi akademik betujuan untuk mengembangkan kompetensi guru, mengembangkan kurikulum dan mengembangkan kelompok kerja/musyawarah guru mata pelajaran dan membimbing PTK.

3. Prinsip supervisi
a. Praktis
b. Sistematis
c. Obyektif
d. Realistis
e. Antisipatif
f. Kooperatif
g. Kekeluargaan
h. Demokratis
i. Aktif
j. Humanis
k. Konstruktif
l. Berkelanjutan
m. Terpadu
n. Komprehensif

Sumber :
LEMBAGA PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN KEPALA SEKOLAH
BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN
2011


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan masukkan ke dalam blog ini

Designed By