Versi Android


Breaking News

kurikulum

Tampilkan postingan dengan label pendidikan maju. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan maju. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Mei 2017

“Guru Unggul, Sekolah Hebat” ala Finlandia


Oleh: In Amullah, S.Si
(Team Leader Sekolah Guru Indonesia (SGI) – Halmahera Utara)
Siapa yang tak kenal dengan Finlandia? Negara kecil asal Nokia ini terkenal dengan julukan negara dengan ‘pendidikan terbaik dunia’. Finlandia telah berhasil mereformasi sistem pendidikannya dari yang dulunya tak dikenal dan tidak efisien kini menjadi contoh bagi negara-negara lain dalam hal pendidikannya. Selain itu, Finlandia juga dikenal sebagai negara dengan indeks kebahagiaan tertinggi. Apa alasannya dan mengapa Finlandia bisa meraih gelar tersebut? Kita semua tahu bahwa pendidikan adalah elemen penting bagi kemajuan sebuah bangsa. Berkaca dari Finlandia, kita bisa belajar dan menimba ilmu tentang kemajuan negara tersebut yang berawal dari pendidikannya. Salah satu faktor yang menjadi fokus perbaikan pendidikan di Finlandia adalah ‘program pendidikan guru’nya. Mengapa guru?
Guru adalah profesi paling bergengsi dan paling kompetitif di Finlandia. Guru menjadi profesi nomor satu bagi kalangan orang-orang muda Finlandia. Menurut Pasi Sahlberg, Ph.D (Pakar Pendidikan Finlandia dan Internasional) orang-orang Finlandia memandang guru sebagai profesi prestisius dan mulia, sejajar dengan dokter, pengacara dan ekonom. Hal tersebut lebih karena sebab-sebab moral dari pada kepentingan dan imbalan materi atau karir. Lalu, apa yang membuat “menjadi guru” sebagai pekerjaan top bagi mereka? Pasi Sahlberg dalam bukunya yang berjudul “Finnish Lessons: Mengajar Lebih Sedikit, Belajar Lebih Banyak ala Finlandia” mengemukakan tiga alasan. Pertama dan yang paling penting adalah tempat guru bekerja memungkinkan mereka memenuhi misi moral mereka. Kedua, pendidikan guru yang kompetitif dan menantang (karena syarat untuk menjadi guru SD (Sekolah Dasar) saja harus bergelar master/S2). Ketiga, tingkat penghasilan bukan motivasi utama untuk guru. Pendidik Finlandia terkenal, Matti Koskenniemi menggunakan istilah “cinta pedagogis” yang juga menjadi landasan teori tindakan bagi Veera Salonen (mahasiswa pendidikan guru Universitas Helsinki) dalam mengungkapkan alasannya menjadi guru. Mengajar, barangkali lebih daripada pekerjaan lain adalah profesi yang berhasil kau jalani hanya ketika engkau berhasil memberikan hati dan kepribadianmu, ungkapnya.
Semua guru di Finlandia harus memiliki gelar master / S2. Sebagaimana kualifikasi guru yang dipersyaratkan di Finlandia adalah guru TK (sarjana/S1), guru SD (master / S2), guru Sekolah Terpadu / Peruskoulu (master / S2), guru SMP (master / S2), dan guru SMA (master / S2). Disini terlihat jelas, bahwasanya guru harus benar-benar profesional sesuai dengan bidang kemampuannya dalam menjalankan tugasnya sebagai guru. Tugas guru tidak hanya mengajar dan berhenti pada tataran S1 saja, akan tetapi menjadi guru pembelajar, dan guru riset. Menurut Ann Lieberman (Senior Scholar, Stanford University) fokus reformasi pendidikan Finlandia adalah pada program pendidikan guru. Mereka yang berprofesi sebagai guru tidak hanya terus mengajar, tetapi banyak yang melanjutkan studi, bukan untuk melepaskan profesi ini, melainkan untuk belajar lebih banyak dan berkontribusi lebih banyak kepada profesi.
Sederhananya guru-guru Finlandia adalah guru pembelajar, guru riset dan guru pemimpin. Bahkan pemimpin adalah guru. Karena kebanyakan sekolah di Finlandia, kepala sekolah adalah seorang guru berpengalaman yang sudah teruji kompetensi kepemimpinan dan kepribadiannya. Di banyak sekolah, kepala sekolah juga memegang sejumlah kelas kecil untuk ia ajar setiap minggunya. Kepemimpinan pedagogik adalah salah satu bidang kunci dalam kepemimpinan sekolah yang profesional di Finlandia. Menurut Martti Hellstrom (Kepala Sekolah di Sekolah Aurora, Kota Espoo), menjadi kepala sekolah bukan seperti menjadi adiministrator atau pelatih sebuah klub olahraga. Seorang kepala sekolah bertanggung jawab atas sebagian dari sebuah sistem sosial yang kompleks yang terus menerus berubah. Tanpa pengalaman sebagai guru, akan sangat sulit untuk berhasil memenuhi amanat pekerjaan ini.
Selain keunggulan guru, banyak faktor lain yang telah berkontribusi pada ketenaran sistem pendidikan Finlandia, seperti adanya Sekolah Terpadu 9 tahun (Peruskoulu) untuk semua anak, kurikulum modern yang berfokus pada pembelajaran, perhatian sistematis kepada siswa-siswa berkebutuhan khusus yang beragam serta otonomi lokal dan tanggung jawab bersama. Reformasi sekolah terpadu (Peruskoulu) memicu pengembangan tiga aspek tertentu dalam sistem pendidikan Finlandia, yang belakangan telah terbukti berperan penting dalam menciptakan sistem pendidikan berkinerja tinggi. Pertama, prinsip berkesempatan sama (equal opportunity principle) yaitu menerima semua siswa tanpa memandang domisili, latar belakang sosial ekonomi dan minatnya. Kedua, bimbingan karier dan konseling menjadi bagian wajib dalam kurikulum sekolah terpadu di semua sekolah. Bimbingan dan konseling ini membantu siswa dalam menentukan arah pendidikan dan masa depan mereka, seperti melanjutkan ke sekolah atas umum, melanjutkan ke sekolah kejuruan atau mencari kerja. Ketiga, Peruskoulu menuntut guru-guru untuk profesional dan kreatif dalam mengajar siswa yang kemampuannya beragam.
Biodata Penulis:
Penulis memiliki nama lengkap In Amullah, S.Si. Saat ini penulis bertugas sebagai Relawan Pendidikan Sekolah Guru Indonesia (SGI) – Dompet Dhuafa yang ditempatkan di daerah Loloda Kepulauan, Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Selain itu, penulis juga menjadi ketua tim (team leader) Sekolah Guru Indonesia – Halmahera Utara. Penulis bisa dihubungi di nomor handphone 0822 9801 4064 atau email: kang.amroelz@gmail.com

Sumber : 
http://www.sekolahguruindonesia.net/guru-unggul-sekolah-hebat-ala-finlandia/
Read more ...

Selasa, 02 Mei 2017

Pendidikan Indonesia Seperti Pendidikan Finlandia?


Apa yang ada dipikiran kita ketika mendengar “Sistem Pendidikan di Indonesia”? Mungkin sebagian besar dari kita akan berkata, “Pendidikan di Indonesia seperti robot, karena siswa berada delapan jam disekolah dengan waktu istirahat kurang dari satu jam.” Lalu ada juga yang berkata, “Sistem Pendidikan di Indonesia tidak efektif dan cukup buruk.” Bahkan ada pula yang hingga berkata, “Siswa hanya diberi teori-teori yang tidak jelas, yang nanti ketika bekerja tidak diperlukan.” Ya intinya dari banyak opini-opini dari rekan mahasiswa, adik kelas, dan juga opini masyarakat disekitar penulis seputar sistem Pendidikan di Indonesia, mostly of them talked about how poor the education in this country atau dengan kata lain, semua opini tersebut pasti berunsur negatif. Entah itu berupa keluh kesah dan lain sebagainya. Opini-opini tersebut tidak dapat penulis pungkiri lagi bahwa hal tersebut juga ada benarnya mengenai sistem pendidikan di Indonesia yang masih jauh tertinggal dibanding negara-negara lain. Bahkan kualitas Sumber Daya Manusia di Indonesia menduduki peringkat yang paling rendah di ASEAN. Apabila kualitas SDM nya sudah rendah tentunya salah satu faktor penyebabnya adalah Pendidikan yang masih minim. Banyak orang berkata, “Harusnya supaya pendidikan di Indonesia ini maju, sistem pendidikannya diubah seperti sistem pendidikan yang ada di Finlandia.” Apakah kalian sependapat dengan kalimat tersebut bahwa pendidikan di Indonesia harus diubah layaknya sistem pendidikan di negara Finlandia? Tentunya sudah kita kenal bahwa sistem pendidikan di Finlandia merupakan salah satu sistem pendidikan terbaik yang ada di dunia. Untuk kali ini, penulis tidak sependapat dengan kalian yang sependapat dengan pernyataan tersebut. Mengapa? Begini, ada beberapa hal yang harus menjadi pertimbangan guys untuk merubah sebuah sistem Pendidikan di suatu negara. Terlebih kita harus tahu bahwa Indonesia merupakan negara yang berpenduduk sangat banyak sekitar kurang lebih seperempat miliar atau dengan kata lain ada 250 juta lebih orang yang menduduki negara Indonesia ini. Sehingga apabila pemerintah ingin mengubah sistem Pendidikan atau bahkan membuat suatu ketetapan baru bagi Pendidikan di Indonesia, tentunya perlu melewati proses pemikiran yang sangat matang. Berikut penulis paparkan beberapa alasan mengapa sistem Pendidikan Finlandia belum bisa diterapkan di Indonesia: Budaya, Latar Belakang dan Pola Pemikiran yang Berbeda Tentunya setiap negara memiliki budaya dan latar belakang yang berbeda, yang dimana hal tersebut juga akan membawa perbedaan terhadap pola pemikiran masyarakat di masing-masing negara. Seperti contoh masyarakat di Indonesia cenderung berorientasi kepada nilai atau hasil akhir, hal tersebut terlihat bahwa sejak enam tahun pertama anak bersekolah, mereka sudah dinilai dan nilai tersebut dianggap sudah mempengaruhi prestasi mereka. Sedangkan apabila di Finlandia, 93% orang di Finlandia adalah lulusan sekolah tinggi, hal ini yang menyebabkan masyarakat di Finlandia lebih menghargai sebuah proses dibandingkan langsung menilai pada hasil akhir. Hal ini yang menyebabkan kita tidak bisa langsung membandingkan dan menyamaratakan antara pendidikan di Finlandia dengan Indonesia. Selain itu, akibat perbedaan pola pikir ini pula yang menyebabkan masyarakat Indonesia terkadang bahkan seringkali menyepelekan kemampuan seseorang di dalam bidang tertentu. Contoh nyatanya adalah masih banyak masyarakat di Indonesia yang berpikir bahwa orang yang pintar hanyalah orang-orang yang mahir dalam hitung-hitungan dan ilmu sains seperti fisika dan matematika. Padahal tentunya kita semua mengetahui bahwa setiap pribadi memiliki minat dan bakat  yang berbeda-beda, sehingga kita tidak dapat memaksakan satu pribadi untuk mahir di satu bidang yang tidak sesuai dengan passionyang ia miliki. Salah satu buktinya adalah sekolah kejuruan yang berada di Indonesia masih seringkali dipandang rendah oleh masyarakat, padahal sebenarnya akan lebih baik apabila sejak awal seorang anak sudah mengetahui minat dan bakatnya lebih awal, anak tersebut diikutkan ke sekolah yang tepat dan sesuai dengan anak yang bersangkutan. Nah karena stigma yang ada pada masyarakat mengenai sekolah kejuruan yang cenderung negatif, hal tersebut yang juga menyebabkan baik orang tua siswa, maupun siswa nya itu sendiri enggan untuk memilih melanjutkan pendidikan di sekolah kejuruan. Berbeda dengan pandangan di masyarakat Finlandia, perlu kita ketahui sebanyak 43% masyarakat Finlandia memilih sekolah kejuruan. Di Finlandia sendiri, masyarakatnya juga cenderung dapat menghargai setiap karakteristik minat dan bakat tiap pribadi. Sehingga di Finlandia banyak terdapat sekolah-sekolah kejuruan sesuai minat dan bakat yang banyak diminati di kalangan pelajar. Nah, tentunya hal ini menjadi pertimbangan bagi para orang tua siswa dan siswanya sendiri untuk cenderung lebih memilih sekolah kejuruan dibandingkan dengan sekolah yang sistem pengajarannya masih sangat general. Nah, mari coba kita pikirkan sejenak apabila sistem sekolah kejuruan diterapkan Indonesia, menurut pendapat penulis hal ini tidak mudah untuk diterapkan begitu saja, sekalipun sekolah kejuruan yang ada Indonesia sudah cukup banyak. Karena adanya stigma negatif pada masyarakat di Indonesia tentang sekolah kejuruan, hal ini justru malah dapat mengakibatkan sekolah kejuruan semakin tidak diminati oleh masyarakat dan fungsi sekolah kejuruan tidak berjalan secara efektif. Pendidikan yang Belum Merata Apabila pada poin sebelumnya penulis telah memaparkan bahwa 93% masyarakat di Finlandia telah mengenyam pendidikan tinggi, hal tersebut berarti dapat dikatakan bahwa Pendidikan yang ada di Finlandia telah terbilang sudah merata hampir ke seluruh Finlandia walaupun belum merata secara sempurna karena masih belum mencapai angka 100%. Sekarang mari kita bandingkan dengan kemerataan pendidikan di Indonesia, tentunya kita semua mengtahui bahwa pendidikan di Indonesia ini sangat belum merata terutama semakin ke bagian timur Indonesia. Mengingat negara Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat luas dan jumlah penduduknya yang juga sangat banyak, perihal pemerataan pendidikan hingga ke pelosok negeri ini tentunya masih menjadi problematika tersendiri bagi negeri ini. Tentunya apabila pendidikan sendiri belum merata di negeri ini, maka jangan heran guys apabila masih banyak anak-anak muda di sekitar kita yang seharusnya mengenyam pendidikan seperti kita, malahan mereka putus sekolah. Perbedaan Profesionalitas dan Tunjangan untuk Guru Di Indonesia, sudah banyak guru-guru atau tenaga-tenaga pendidik yang profesional terutama di wilayah kota-kota besar. Namun, bagaimana dengan guru-guru yang berada di luar kota-kota besar? Apakah sudah terjamin tingkat ke-profesionalan-nya? Tentu saja tidak. Hal ini juga yang menjadi salah satu pertimbangan kuat mengapa sistem pendidikan Finlandia akan sulit untuk diterapkan di Indonesia. Kita perlu tahu bahwa semua guru di Finlandia harus bergelar master, hal tersebut tentu saja berpengaruh pada kinerja para guru saat mengajar. Sedangkan di Indonesia bahkan untuk lulus S1 saja, tidak semua guru dapat lulus S1. Apalagi untuk menempuh pendidikan selanjutnya? Tentunya akan memerlukan biaya yang tidak murah. Di Indonesia sendiri keberadaan guru masih belum dijamin 100% oleh pemerintah. Salah satu bukti konkret sederhananya adalah rata-rata gaji guru di Indonesia masih belum memenuhi UMR.  Hal ini tentunya sangat memprihatinkan. Berbeda dengan Finlandia, semua guru diberi gaji yang layak bahkan terbilang cukup besar, selain itu untuk menunjang pendidikan seorang guru agar dapat mendapatkan gelar master semuanya sudah difasilitasi oleh negara, sehingga guru di Finlandia tidak perlu memusingkan diri dengan biaya pendidikan dan semacamnya. Tugas guru di Finlandia benar-benar hanya mengajar dengan profesional dan berdedikasi. Hal ini yang menyebabkan profesi guru sangat diminati di Finlandia, bahkan pada tahun 2010 ada 6.600 orang yang bersaing untuk merebut 660 kursi pelatihan guru SD. Karena tingginya kesadaran akan pendidikan di Finlandia, masyarakat Finlandia bahkan pemerintah pun juga sangat menghargai pendidikan serta menghormati setiap guru yang ada. Profesi guru sama dihargainya seperti profesi dokter dan pengacara. Nah, dari beberapa hal yang telah penulis paparkan mungkin dapat menambah sedikit wawasan kita mengapa sistem pendidikan Indonesia tidak dapat meniru layaknya negara Finlandia. Banyaknya perbedaan-perbedaan tersebut tentunya akan menjadi bahan pertimbangan yang harus dipikirkan secara matang, karena apabila pihak yang memiliki kepentingan salah dalam melakukan pengambilan keputusan maka dampaknya akan sangat berakibat fatal. Lantas apa yang dapat dilakukan anak muda dalam menyikapi hal ini? Penulis hanya menyarankan agar kita sebagai anak muda tidak banyak mengeluh. Karena salah satu cara untuk memajukan pendidikan di Indonesia itu dapat dimulai dari diri kita sendiri. Tidak perlu kita mengeluh kesana sini, terus menerus mengkritik pemerintah tanpa melakukan tindakan, karena yang diperlukan hanya satu, bagaimana langkah selanjutnya yang kita lakukan. Karena orang menilai kita cerdas tidak perlu dari beribu-ribu kata yang kita ucapkan, cukup dengan satu tindakan kita maka orang disekitar kita dapat melihat bagaimana diri kita. Demikian kontribusi yang dapat penulis lakukan di hari Pendidikan Nasional ini dengan menulis pendapat penulis seputar pendidikan di Indonesia ini. Kiranya tulisan ini dapat menambah wawasan kita lebih banyak lagi seputar dunia pendidikan di Indonesia. Terimakasih. KEZSHA PARAMESTI

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kezshaparamesti/pendidikan-indonesia-seperti-pendidikan-finlandia_5907715fff22bd31206cca37


Sumber:
http://www.kompasiana.com/kezshaparamesti/pendidikan-indonesia-seperti-pendidikan-finlandia_5907715fff22bd31206cca37


Read more ...

Kata Jusuf Kalla, Pendidikan Indonesia Semakin Maju


WARTA KOTA, GAMBIR - Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) menyampaikan, saat ini pendidikan di Indonesia sudah lebih maju.
Dari tahun ke tahun, kata JK, mutu pendidikan di Indonesia selalu memiliki inovasi dan kemajuan.
"Kita dari waktu ke waktu pasti pendidikan kita relatif maju," ujar JK di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (2/5/2017)
Hanya, jika dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara seperti Vietnam dan Singapura, Indonesia masih tertinggal.
Namun, jika dibandingkan dengan Program Penilian Siswa Internasional (PISA) pada tingkat SMA ke bawah, kenaikan mutu dapat dirasakan selama 10 tahun ke belakang.
"Kalau dihitung dari PISA, saya rasa ada kemajuan. Kalau dibanding dengan negara lain, ada yang cepat ada yang lambat," imbuhnya.
Mengenai penyelenggaraan Ujian Nasional, JK menilai masih sangat relevan dilakukan sebagai sebuah penilaian.
Menurutnya, jika hanya berdasarkan pada ujian sekolah yang berbeda-beda, pemerintah tidak bisa menilai secara nasional daerah mana yang maju dan mana yang ketinggalan.
"Kalau tanpa ujian yang bersifat standar nasional, kita tidak bisa mengetahui apa yang ada diperbaiki atau tidak diperbaiki," tuturnya. (Amriyono Prakoso)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews

Sumber : http://wartakota.tribunnews.com/2017/05/02/kata-jusuf-kalla-pendidikan-indonesia-semakin-maju
Read more ...
Designed By